Ketidakberdayaan

Semua hal adalah hal lain, asing. Kepura-puraan yang tidak bernama. Setiap orang memilih berdiam dengan diri sendiri dan mencintai orang lain. Tetapi cinta tidak butuh banyak kesenangan. Ia hanya ingin merinding dan merenung Barangkali di setiap keinginan manusia ada waktu murung yang panjang. Maka aku berdoa, semoga ketidakberdayaan bisa sungguh mencintai ketidakberdayaan yang lain. Hidup … Continue reading Ketidakberdayaan

Satu Kota Kecil

Seluruh dunia dalam diriku gemetar. Terdengar. Puisi mendadak tenggelam. Cinta, aku ingin menjaga satu kota kecil terakhir di jantungmu atau jantungku yang samar. Debar. Yang pernah menyelamatkan kita dari gempar dada. Cinta, sebut saja aku badai atau laut yang berkecamuk di ombak tubuhmu. Atau malam kudus yang bercahaya dari gulita matamu. Aku ingin merasakan kau … Continue reading Satu Kota Kecil

Kupeluk Tubuh Sendiri

Di dalam kepalaku hidup sebuah dunia yang kelam dan damai. Tempat di mana seorang manusia pernah bersedih dan berbahagia dan menangis (barangkali kau atau aku yang lain.) Negeri bagi seribu tebing jurang yang membentang lapang. Menunggu kerapuhan seseorang menjatuhkan dirinya berulang kali Puisi berkobar membakar habis diriku dan menyisahkan kesunyian yang lebih besar. Kata-kata bara … Continue reading Kupeluk Tubuh Sendiri

Aku tidak pernah utuh

Perihal hal sederhana selalu ingin kubayangkan sebagai lautan biru dan segalanya yang serba baru. Aku ingin sanggup merasakan sesuatu yang tidak mampu kuubah jadi kata-kata: apakah ini degupmu? Sebelum aku terbaring memimpikan semata satu kata yang tidak sanggup memecahkan hening atau tenggelam dalam bening cuaca. Adakah aku—adakah kau mampu hidup dalam kemiskinan bahasa? Aku ingin … Continue reading Aku tidak pernah utuh

Aku tidak pernah ada

Aku ingin menjadi daun yang paling kering saat musim begitu basah. Akan kukosongkan semua hidupku demi menatap matamu yang gemetar di kejauhan atau diguncang badai gelisah. Tetapi kehidupan membuatku tidak pernah beranjak. Tiada satu kata dari sajak ini yang mampu kutolak. Kau tak pernah tahu seberapa banyak puisi yang coba kutuliskan merangkak seperti ular yang … Continue reading Aku tidak pernah ada

Tidur Panjang Puisi Ini

Aku ingin merasakan debar seluruh lautan, embus nafas yang mengembang di langit biru, empas ombak yang menerjang gigir tebing, kepak burung yang berterbangan dan merajut sangkar di angkasa. Akan aku cintai segala yang bening dan hening, luruh dan rapuh. Hamparan udara yang menyentuh harapan manusia, malam yang mengukuhkan kekosongan, bulan yang matang — bundar dan … Continue reading Tidur Panjang Puisi Ini

Florence

Seperti laut, seperti maut kau berdiri di tepi pantai menautkan getar dada kau atau malam atau perihal semua yang tenggelam. Keindahan dan ketenangan dan kesunyian adalah riak bulir air yang menyentuh pucat kaki kau, kau dengarkan teriakkan sedih pijar matahari yang tidak mampu mengecup dasar lautan. Atau semua gemuruh ombak yang luruh di tungkai kaki … Continue reading Florence